Maurizio Sarri telah menjadi manajer terbaru yang meninggalkan Chelsea setelah ia diangkat menjadi pelatih Juventus.

Sarri adalah penunjukan manajerial ke-13 yang dibuat oleh pemilik Roman Abramovich sejak ia mengambil alih klub pada musim panas 2003, dengan Jose Mourinho dan Guus Hiddink masing-masing memiliki dua periode.

Dan berikut adalah para manajer yang mengalami ‘nasib buruk’ di era sang patron asal Rusia.

 

Claudio Ranieri

Manajer asal Italia itu berada di pucuk pimpinan ketika Abramovich tiba di Stamford Bridge. Setelah menghabiskan banyak uang, ia memimpin Chelsea ke posisi kedua klasemen Premier League dan semifinal Liga Champions, tetapi menghadapi spekulasi terus-menerus tentang pekerjaannya dan dipecat pada akhir musim.

 

Jose Mourinho (Juni 2004-September 2007)

Pria asal Portugal itu memantapkan dirinya sebagai pahlawan Chelsea, memenangkan gelar liga beruntun dalam dua musim pertamanya, satu Piala FA dan dua Piala EFL. Kepergiannya hanya sebulan ke musim keempatnya dengan ‘persetujuan bersama’ yang tidak terduga.

 

Avram Grant (September 2007-Mei 2008)

Seorang teman dari Abramovich, pria asal Israel telah ditunjuk sebagai direktur teknis pada musim panas 2007. Ia secara kontroversial menjadi manajer setelah kepergian Mourinho dan hanya bertahan satu musim, yang membuat Chelsea finish di urutan kedua dan kalah di final Liga Champions melawan Manchester United. Dia memiliki persentase kemenangan terbaik dari semua manajer era Abramovich.

 

Luiz Felipe Scolari (Juli 2008-Februari 2009)

Scolari dari Brasil adalah pelatih yang memennagkan Piala Dunia pertama yang melatih juga di Premier League, tetapi penampilannya yang buruk membuatnya dipecat sebelum akhir musim pertamanya.

 

Guus Hiddink (Februari 2009-Mei 2009)

Hiddink diangkat hingga akhir musim dan menggabungkan tugasnya dengan jabatannya sebagai pelatih timnas Rusia. Dia hanya kalah satu pertandingan dan memenangkan Piala FA tetapi tidak bisa dibujuk untuk bertahan.

 

Carlo Ancelotti (Jul 2009-Mei 2011)

Sang pelatih asal Italia menikmati impian di musim pertama, memimpin Chelsea ke dua gelar domestik, dengan timnya menjadi yang pertama yang mencetak lebih dari 100 gol EPL dalam semusim. Dia dipecat berjam-jam setelah finish kedua dalam musim keduanya.

 

Andre Villas-Boas (Juni 2011-Maret 2012)

Dipuji sebagai Mourinho versi baru, masa jabatan Villas-Boas di Stamford Bridge tidak seperti yang dibayangkan. Setelah berbicara tentang pemberontakan pemain, ia dipecat dengan Chelsea di luar tempat Liga Champions.

 

Roberto Di Matteo (Maret 2012-November 2012)

Mantan gelandang Chelsea itu adalah asisten Villas-Boas dan diangkat menjadi manajer sementara sampai akhir musim. Kemenangan Piala FA dan Liga Champions membuatnya mendapatkan kontrak permanen, tetapi musim berikutnya tidak berjalan dengan baik dan ia dipecat.

 

Rafael Benitez (November 2012-Mei 2013)

Benitez adalah manajer sementara terbaru klub dan tidak populer dengan penggemar Chelsea karena masa lalunya di Liverpool. Pria asal Spanyol itu memenangkan Liga Europa dan memimpin tim ke urutan ketiga di liga.

 

Jose Mourinho -(Juni 2013-Desember 2015)

‘The Special One’ kembali untuk memenangkan gelar EPL ketiga di musim 2014-15 serta Piala EFL tetapi setelah menandatangani kontrak baru, awal yang suram untuk musim berikutnya membuatnya meninggalkan klub untuk kedua kalinya.

 

Guus Hiddink (Desember 2015-Mei 2016)

PEriode kedua Hiddink tidak bisa menyamai dampak dari yang pertama tetapi dia berhasil menstabilkan klub.

 

Antonio Conte (Juli 2016-Juli 2018)

Pelatih asal Italia menikmati musim perdana yang hebat, dengan Chelsea mendominasi EPL dan memenangkan gelar dengan unggul 7 poin, tetapi memasuki yang kedua dengan situasi buruk setelah mengkritik kebijakan transfer klub. The Blues berada di urutan ke-5 EPL, kehilangan tempat di Liga Champions, dan bahkan kemenangan Piala FA tidak dapat menyelamatkan Conte.

 

Maurizio Sarri (Juli 2018-Juni 2019)

Klub ini memenangkan lima pertandingan liga pertama Sarri sebagai manajer dan tidak terkalahkan dalam 12 pertandingan, tetapi penurunan relatif pada awal tahun baru membuat kualifikasi Liga Champions mereka diragukan dan melihat taktik Sarri dipertanyakan. Mereka pulih untuk finish ketiga, mencapai final Piala EFL dan memenangkan Liga Europa tetapi masih mencari manajer baru.