Luka Modric dan Pengaruhnya Bagi Kroasia di Piala Dunia 2018

//Luka Modric dan Pengaruhnya Bagi Kroasia di Piala Dunia 2018
FUN88KUIS - Kuis Berhadiah Rp 10 JUTA!

FUN88KUIS - Kuis Berhadiah Rp 10 JUTA!

Luka Modric dan Pengaruhnya Bagi Kroasia di Piala Dunia 2018

Dari Zadar yang dilanda perang sampai ke final Piala Dunia, Luka Modric telah mengubah penampilan yang sulit menjadi kebiasaan seumur hidup.

Mungkin masuk akal seperti sekarang ini, tapi Luka Modric punya banyak alasan untuk menghabiskan sebagian besar karirnya dengan membenci Piala Dunia.

Sebagai pemain berusia 20 tahun, ia datang dari bangku cadangan dua kali pada 2006 saat Kroasia keluar dari babak penyisihan grup dengan berakhir di belakang Australia. Negaranya tidak memenuhi syarat pada tahun 2010 dan empat tahun kemudian, ia tiba di Brasil sebagai pemenang Liga Champions, salah satu gelandang terbaik di dunia dan dianggap bakal melangvkah jauh di kompetisi antar negara. Namun kekalahan 3-1 ditangan Meksiko pada pertandingan ketiga membuat mereka harus berkemas.

“Ingatan saya di Brasil tidak bagus,” kenangnya. “Saya tidak bermain bagus. Mungkin saya terlalu lelah setelah musim yang panjang. Ketika saya melihat kembali kompetisi yang saya mainkan untuk Kroasia, itu adalah penampilan terburuk saya.”

Piala Dunia sering dikatakan menawarkan kapasitas untuk membawa perubahan tidak seperti acara olahraga lainnya. Itu tentu berlaku untuk Modric ketika dia membawa negaranya ke final tahun ini, bahkan dia menjadi pemain terbaik turnamen.

Dari Pele di tahun 1958 hingga Andres Iniesta tahun 2010, turnamen sering kali ‘milik’ para pemain hebat, dan Modric sudah mencapai sesuatu dalam karirnya.

“Luka telah mencapai segala yang mungkin di level klub tetapi belum melakukannya untuk tim nasional,” kata Zlatko Dalic setelah Kroasia mencapai babak final dan harus puas di posisi kedua.

“Ini mungkin salah satu periode terbaik untuk Luka. Dia memainkan sepakbola terbaik dalam hidupnya.”

Jalur karir Modric ke puncak sepakbola terdokumentasi dengan baik, dimana bintang Dinamo Zagreb itu (ia bergabung dengan tim muda mereka setelah Hadjuk Split menolaknya) dibentuk oleh masa pinjaman di Bosnia-Herzegovina, ia menjadi pemain yang bagus di Tottenham dan yang luar biasa di Real Madrid.

Tahun-tahun awalnya kurang mengesankan. Seperti beberapa rekan senegaranya, termasuk Ivan Rakitic, Mario Mandzukic dan Dejan Lovren, Modric dan keluarganya mengungsi akibat pecahnya Perang Kemerdekaan Kroasia. Tetapi sementara ketiga rekan satu timnya dan keluarga mereka akan pindah ke Eropa tengah, keluarga Modric harus bermukim di hotel pengungsi di Zardar.

“Kami selalu takut, itulah yang paling saya ingat,” Tomislav Basic, salah satu pelatih Modric di klub lokal NK Zadar, mengatakan kepada dokumenter Canal Plus. “Ribuan granat ditembakkan dari bukit-bukit di sekitarnya, jatuh di lapangan pelatihan pada tahun-tahun itu dan kami selalu berlomba untuk mencapai tempat perlindungan. Sepakbola adalah pelarian kami dari kenyataan.”

Ketua klub Josip Bajlo mengingatkan Modric ketika berusia enam tahun sebagai “bocah ini yang biasa menendang bola di sekitar tempat parkir hotel sepanjang hari. Dia kurus dan sangat kecil untuk usianya, tetapi Anda dapat segera melihat bahwa ia memiliki sesuatu yang spesial dalam dirinya. ”

Kompleks hotel terlihat keras dan gersang hari ini dan tidak sepenuhnya berbeda 27 tahun yang lalu. Ancaman dari pasukan Serbia itu nyata dan tak terhindarkan. Kakek Modric, Luka, tinggal di sebuah rumah pertanian di jalan menuju pegunungan Velebit. Suatu hari, ketika dia berjalan di peternakan hampir 500 meter dari rumahnya, dia dibunuh oleh pemberontak.

Kisah-kisah pengungsi serupa secara umum biasa terjadi dalam sepakbola dan Piala Dunia ini. Bintang-bintang Swiss seperti Xherdan Shaqiri, Granit Xhaka, dan Valon Behrami juga mengalami hal serupa namun berhasil sukses dalam sepakbola.

Namun hal itu tidak persis dengan bagaimana Modric mengingatnya.

“Meskipun masa perang yang sulit dan status pengungsi, saya memiliki masa kecil yang normal, seperti kebanyakan anak-anak lain,” katanya kepada FIFA TV pada 2016.

“Orang tua saya melakukan segalanya agar saudara perempuan saya dan saya dapat hidup normal. Kami tidak hidup dalam kelimpahan, tetapi kami tidak melewatkan apapun. Ada suasana keluarga yang menyenangkan, getaran positif, dan itulah hal yang paling penting.”

Ini adalah sikap yang mungkin mempengaruhi Modric sebagai pemain: tidak rumit, bersemangat dan untuk beberapa waktu, kurang dihargai. Dari Dinamo ke Tottenham ke Madrid, dari tiga Liga Champions berturut-turut ke final Piala Dunia, ia telah dianggap sebagai kandidat Ballon d’Or tahun ini.

By | 2018-07-25T08:05:30+00:00 July 25th, 2018|Berita Bola|0 Comments

About the Author:

Dheardianvoc

Isi Komen Anda

%d bloggers like this: