Kegagalan Buffon Bukan Tolak Ukur Yang Baik Untuk Donnarumma

//Kegagalan Buffon Bukan Tolak Ukur Yang Baik Untuk Donnarumma
FUN88KUIS - Kuis Berhadiah Rp 10 JUTA!

FUN88KUIS - Kuis Berhadiah Rp 10 JUTA!

Kegagalan Buffon Bukan Tolak Ukur Yang Baik Untuk Donnarumma

Kegagalan Italia mencapai putaran final Piala Dunia 2018, menjadi sisi buruk dalam beberapa dekade dan tidak bisa menjadi ukuran untuk masa depan Azzuri.

Kiper terbaik abad ke-21 dengan segudang prestasi, Gianluigi Buffon, memutuskan pensiun dengan cara yang mengenaskan karena gagal membawa Italia lolos ke Piala Dunia 2018.

Dan sementara itu muncul sosok Gianluigi Donnarumma yang digadang-gadang sebagai suksesor Buffon di bawah mistar gawang Italia, hasil terakhir bagi Azzuri mungkin tidak terlihat baik untuk dijadikan tolak ukur di masa depan.

Dibina Parma hingga ke papan atas Serie A, Buffon adalah pemain yang tidak digunakan skuad Italia di Piala Dunia 1998.

Ketika masih berusia 20 tahun, termasuk dalam tim yang diisi Alessandro Costacurta, Giuseppe Bergomi, Demetrio Albertini dan Roberto Baggio yang dipimpin Paolo Maldini.

Dengan banyaknya kiper yang lebih senior dan berpengalamana, Buffon harus menunggu sampai Piala Dunia berikutnya untuk mendapatkan peran utama yang sebelumnya dipegang Gianluca Pagliuca dan Francesco Toldo, yang seharusnya bisa mempertahankan sejarah panjang setelah 15 tahun.

Ada lebih banyak kekecewaan daripada sukacita selama satu setengah dekade, seperti kekalahan di tangan Korea Selatan pada tahun 2002 diikuti oleh kegagalan di Euro 2004.

Buffon dan rekan-rekan sebayanya kemudian membalaskan semua kegagalan dengan menjuarai Piala Dunia 2006, tapi hal itu juga disertai kasus ‘Calciopoli’ yang sedang marak di Italia.

Juventus yang diturunkan ke Serie B adalah ‘sisi buruk’ bagi Buffon setelah mengangkat trofi Piala Dunia. Dan saat Bianconeri bangkit, tim nasional Italia mengalami penurunan di semua kompetisi.

Piala Dunia berikutnya menjadi salah satu momen buruk bagi Azzuri, yang mengalami kegagalan di babak penyisihan grup pada tahun 2010 dan 2014.

Namun diantara tahun tersebut, tepatnya 2012, Italia berhasil menembus partai puncak Euro 2012, meskipun harus mengakui kekuatan Spanyol yang dilatih Vicente Del Bosque.

Dan bahkan Antonio Conte yang dianggap sebagai master taktik dan arsitek kebangkitan Juve, hanya mampu membawa Italia ke perempat final Euro 2016, tertatih-tatih meskipun banyak pemain bintang yang tersedia.

Dalam 11 tahun sejak kesuksesan Italia di Berlin, Buffon menjadi saksi lahirnya bintang-bintang baru di Italia seperti Marco Verratti, Lorenzo Insigne dan mungkin Andrea Belotti yang bisa dianggap setara dengan para pendahulu.

Seiring dengan usianya yang menua, Buffon akhirnya melihat perkembangan seorang kiper berbakat milik AC Milan, Gianluigi Donnarumma, yang tampak siap untuk mengisi peran kiper utama tim nasional.

Dengan banyaknya pemain senior yang pensiun, para pemuda Italia memiliki beban berat untuk mengembalikan status Italia sebagai mantan juara dunia, termasuk Donnarumma yang akan memiliki beban berat karena sampai saat ini, dialah yang dianggap layak menggantikan Buffon.

Tetapi yang jelas, prestasi terakhir tidak layak dijadikan tolak ukur jika Italia ingin kembali menjadi juara dunia.

By | 2017-11-15T22:04:55+00:00 November 15th, 2017|Berita Bola|0 Comments

About the Author:

Dheardianvoc

Isi Komen Anda

%d bloggers like this: