Sedikit yang meragukan kemampuan bertarung Conor McGregor, dan paling banyak malah mempertanyakan apakah ia bisa bertinju. Walau terlatih sebagai seorang petinju, MMA merupakan jenis seni bela diri yang sangat berbeda dibandingkan tinju yang terbatasi oleh serangkaian aturan ketat. Bagaimanapun sulit membyangkan ketika McGregor harus bertinju melawan seorang Mayweather.

Kelemahan adalah Kekuatan

Tapi justru ada sisi lain yang dilihat oleh Andre Ward. Ia merupakan salah satu petinju kelas ringan terbaik di dunia. Sosok seperti McGregor malah bisa sangat berbahaya justru karena kelemahannya sendiri. Yakni kurangnya kemampuan pengalaman bertinju. Hal itulah yang membuatnya semakin berbahaya di ring, apalagi jika bertarung di ajang MMA. Misal ditandingkan dengan sosok seperti Mayweather, McGregor memang sangat mencolok kelemahannya. Tetapi lawannya akan kesulitan memahami karakteristik bertinjunya.

Dari situlah kita barangkali bisa mulai memahami bagaimana sesungguhnya pertarungan MMA dilangsungkan. Kemampuan dasar dari seorang petarung barangkali tidak terlalu kerap dipakai. Atau seperti contoh di atas, beberapa kekurangan dari seorang petarung di bidang aslinya malah menciptakan banyak faktor yang menguntungkan. Seperti yang ditunjukkan oleh McGregor. Di atas ring tinju konvensional, kemampuannya boleh dipertanyakan. Pengetahuan teoritis tentang bertinjun bisa sangat jauh dibandingkan dengan lawan-lawannya. Namun saat ia berlaga di ajang MMA, situasi akan berbeda. Kelemahan yang menyebabkannya dianggap miring justru dapat berkembang dengan sendirinya di ruang bertarung MMA.

Kondisi Ruang Bertarung

Satu hal lagi yang membedakan antara tinju dan MMA yaitu ruang di mana para petarung berlaga.Wakil Presiden UFC Performance Institute, Duncan French, menyatakan bahwa faktor ruang bertarung mempengaruhi taktik dan penerapan jurus. Ruang bertarung MMA yang berbenuk oktagon tidak memiliki sudut-sudut tajam seperti ring tinju biasa. Menurutnya, dari perspektif yang sangat taktis, petinju dengan mudahnya tersudutkan oleh lawan dengan kondisi sangat menyulitkan. Sementara itu, petinju yang menekan lawannya ke arah sudut memiliki kedudukan yang sangat strategis. Kondisi itu saling berkaitan dan banyak petinju yang harus mengatasi kesulitannya saat dalam kondisi tersudutkan.

Bentuk ring tinju dengan tali-talinya dapat dimanfaatkan sebagai pantulan petinju untuk menghindari serangan bertubi-tubi. Setiap petinju punya peluang menghindari pukulan demi pukulan dengan memanfaatkan tali-tali pembatas di empat sudut ring tinju. Kondisi itulah yang juga membedakan dari MMA. Ruang pertarungan MMA berbentuk oktagon dengan luas yang bisa menguras tenaga. Karena petarung harus mencari posisi ideal jika hendak menyudutkan lawan. Satu-satunya jalan tercepat ialah dengan mengunci lawan ke atas lantai.

Petinju di atas ring pun menghadapi konsekuensi sama. Harus memiliki kebugaran dan kalkukasi pukulan yang tak akan menguras tenaga sia-sia. Pendekatan yang dilakukan dari dua jenis pertarungan itu memang sangat berkebalikan.

Durasi

Durasi pertarungan pun sangat mempengaruhi. Pertandingan MMA terdiri dari lima menit kali lima ronde. Sedangkan tinju sebagaimana kita tahu terdiri dari 12 ronde dengan masing-masing durasi 3 menit. Yang terbiasa bertarung ala MMA dan harus menghadapi petinju di ring konvensional akan butuh waktu penyesuaian. Petarung di ring tinju pun tak boleh menggunakan kaki atau teknik lain kecuali kedua tangan yang mengenakan sarung tinju.

Dari situ ketemulah perbedaan dasar antara tinju dan MMA. Yaitu rasio effort-to-pause. Bagaimana masing-masing petarungnya mampu mengatur jeda dan secara cepat melakukan serangan yang taktis ke lawannya. Dengan batasan durasi di masing-masing jenis pertarungan itulah kemampuan tersebut harus diterapkan.