Nabuyuki Sakakibara Mengenang 10 Tahun Berakhirnya Pride FC

//Nabuyuki Sakakibara Mengenang 10 Tahun Berakhirnya Pride FC
FUN88KUIS - Kuis Berhadiah Rp 10 JUTA!

FUN88KUIS - Kuis Berhadiah Rp 10 JUTA!

Nabuyuki Sakakibara Mengenang 10 Tahun Berakhirnya Pride FC

Ada masa dimana MMA merupakan olahraga yang tidak diminati dan bahkan dijauhi. Namun ada beberapa pelaku sejarah MMA yang berjasa besar membesarkan olahraga tersebut dan membuatnya diterima oleh masyarakat luas. Pride FC merupakan salah satu bagian dari sejarah MMA dunia yang kini berkembang menjadi begitu populer dan memiliki penggemar di seluruh penjuru dunia. Pride merupakan tonggak sejarah MMA di kawasan Asia; khususnya Jepang. Pada saat MMA belum banyak dikenal dan hanya memiliki sedikit penggemar; olahraga tersebut telah memiliki rumah di Tokyo, Jepang berkat perjuangan Pride. Nabuyuki Sakakibara merupakan salah satu tokoh yang ada di belakang perkembangan MMA di kawasan Asia dan khususnya di negara Jepang.

Pada saat UFC masih sibuk berurusan dengan pembuatan aturan pertarungan, berselisih dengan politisi dan televisi berbayar; Pride FC menjadi ujung tombak MMA yang mengembangkan dan mempopulerkan olahraga tersebut. Promotor pertarungan MMA dari Jepang tersebut telah melahirkan banyak petarung hebat dan menghasilkan pertarungan legendaris hingga mitos di atas ring yang menjadi semacam dongeng bagi para penggemar pertarungan MMA modern saat ini. Keberhasilan mendatangkan banyak petarung hebat dari seluruh penjuru dunia ke kawasan Asia merupakan salah satu keberhasilan besar dari Pride. Sayang promotor pertarungan MMA terbesar di kawasan Asia tersebut harus mengakhiri sejarahnya di tahun 2007.

Kini 10 tahun lebih setelah pertarungan terakhir Pride FC yang digelar pada tanggal 8 April 2007; ada begitu banyak hal yang bisa dikenang dari promotor pertarungan MMA yang berbasis di Tokyo, Jepang tersebut. Sebelum era UFC dan Zuffa; Pride merupakan promotor yang membawa MMA memasuki abad 21 dengan popularitas yang terus meningkat. Nobuyuki Sakakibara sebagai pendiri Pride merupakan sosok yang memimpikan pertarungan MMA yang bisa menjadi daya tarik dunia hiburan. Sesuatu yang mungkin terkesan mustahil mengingat pada waktu itu MMA merupakan olahraga ilegal di Amerika Serikat. Sakakibara dan konsep pertarungan MMA yang dibuat untuk Pride kemudian menjadi semacam pondasi dari perkembangan MMA; bahkan setelah bubar.

Pertarungan terakhir Pride FC yang diberi tajuk Kamikaze berlangsung di Saitama Super Arena disebut Sakakibara bukanlah sebuah akhir dari Pride; namun menjadi awal dari kepemilikan baru. Sakakibara mengaku sadar bahwa Kamikaze merupakan pertarungan terakhir Pride dimana ia menjadi seorang produser. Pada pertarungan Pride ke-34 tersebut terdapat 8 pertarungan; 5 di antaranya merupakan pertarungan kelas berat. Tidak ada satupun dari pertarungan tersebut yang berlangsung hingga 10 menit; semua berakhir sebelum waktu bertarung selesai; seperti menjadi sebuah pertanda bahwa Kamikaze merupakan pertarungan terakhir yang akan digelar oleh Pride. Pada saat itu Sokoudjou mengalahkan Ricardo Arona dan James Thomson memukul KO Don Frye.

Kamikaze merupakan peringatan 10 tahun Pride FC dan juga Dream Stage Entertainment. Meski sadar akan menjadi pertarungan Pride terakhir di bawah arahannya; Sakakibara mengaku optimis bahwa pertarungan kelas ringan yang dijadwalkan berlangsung pada bulan Juni 2007 akan berjalan lancar di bawah arahan Frank, Lorenzo dan Dana. Sakakibara mengaku 10 tahun yang ia jalani memimpin Pride sejak tahun 1997 diawali dengan harapan yang sederhana dan meski harus berakhir di tahun 2007; ia menyebut apa yang dicapai Pride telah melebihi apa yang pernah ia bayangkan. Sakakibara kini merupakan CEO dari Rizin Fighting Federation yang mulai dibangun pada bulan Oktober 2015 lalu. Sakakibara mengaku tidak mengira akan kembali ke dunia MMA setelah Pride berakhir pada tahun 2007 lalu.

By | 2017-10-12T15:31:07+00:00 October 12th, 2017|MMA (Mixed Martial Arts)|0 Comments

About the Author:

Penulisganteng12

Isi Komen Anda

%d bloggers like this: