Sinyal Berakhirnya Masa Suram Bisnis Properti

//Sinyal Berakhirnya Masa Suram Bisnis Properti
FUN88KUIS - Kuis Berhadiah Rp 10 JUTA!

FUN88KUIS - Kuis Berhadiah Rp 10 JUTA!

Sinyal Berakhirnya Masa Suram Bisnis Properti

Berbagai peristiwa politik dan lemah pertumbuhan ekonomi di tahun 2014, membuat bisnis properti terpuruk. Keterpurukan ini terus berlanjut hingga tahun 2016 yang menjadi pukulan berat terutama bagi pelaku bisnis. Kini setelah masa suram yang cukup lama, banyak pihak melihat sinyal-sinyal bangkitnya bisnis properti di tahun 2017 ini. Meski sulit diprediksi seberapa besar perkembangannya, namun sinyal ini menjadi kabar baik bagi semua orang.

Proyek baru semakin banyak

Kabar gembira lewatnya masa-masa suram bisnis properti bukan omong kosong yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Mengingat para pengamat dan ahli properti pun menyatakan hal yang sama mengenai kebangkitan ini. Dari laporan para pengembang nasional di awal tahun 2017 didapatkan jika banyak garapan baru yang sedang mereka lakukan. Proyek-proyek baru ini memang belum dapat dipastikan nilainya namun menjadi pertanda positif untuk kebangkitan bisnis properti.

Meski belum bisa dipastikan nilai proyek-proyek baru ini, namun para pengembang telah berani memberikan target angka penjualan properti yang dibuatnya. Dengan rentang pertumbuhan antara 15 persen sampai dengan 50 persen, para pelaku bisnis mulai percaya diri dengan laju perkembangan bisnis propertinya. Tidak hanya para pelaku bisnis namun pengamat properti juga menyatakan bahwa rentang hingga 50 persen tersebut menjadi pertanda bangkitnya bisnis properti.

Selain banyaknya proyek-proyek baru, sinyal bangkitnya pasar properti juga terlihat dari nilai transaksi yang terjadi. Sejak masa-masa keemasan bisnis properti pada tahun 2011 hingga 2013, nilai transaksi properti anjlok. Akibat anjloknya nilai transaksi ini, banyak pelaku bisnis properti mengalami proyek mangkrak dan sepi penjual. Hingga tidak sedikit para pelaku bisnis properti yang harus berganti pekerjaan karena bisnisnya gulung tikar.

Tanda-tanda kebangkitan bisnis properti di Indonesia juga tidak bisa dihindari. Tidak hanya nilai transaksi yang perlahan mulai naik, namun hal ini juga disertai dengan bertambahnya jumlah transaksi. Sejak berada di masa suramnya, jumlah transaksi properti sangat buruk yang menyebabkan harganya anjlok. Kini jumlah pembelian properti perlahan-lahan mulai naik hingga 38% lebih banyak dari jumlah pembelian tahun sebelumnya.

Pengembang sambut baik bangkitnya bisnis properti

10. Sinyal Berakhirnya Masa Suram Bisnis PropertiMengenai tanda-tanda bangkitnya bisnis properti, memberikan angin segar bagi para pengembang. Setelah selama hampir 3 tahun lamanya bisnis properti mengalami kelesuan, kini masa-masa lesu tersebut telah berakhir. Bangkitnya bisnis properti ini mulai dapat dilihat dari kawasan perkotaan seperti Jabodetabek yang semakin banyak menyelesaikan proyek baru. Nilai transaksinya meningkat tidak hanya di pasar primer namun juga sekunder.

Peningkatan nilai transaksi properti ini bahkan dapat dilihat sejak kuartal I tahun 2017. Ignatius Untung Country General Manager Rumah 123 menyatakan adanya kenaikan nilai transaksi properti hingga 42,5 persen di awal tahun 2017. Kenaikan nilai transaksi ini mencapai Rp. 224 triliun lebih banyak jika dibandingkan dengan nilai transaksi pada tahun 2016. Sementara jumlah transaksi properti sendiri meningkat hingga 38 persen.

Untung menganggap jika kenaikan nilai transaksi properti ini dikarenakan nilai properti besar Rp. 2,5 miliar lebih. Meski harga properti mahal ini mampu mendongkrak naiknya jumlah dan nilai transaksi, namun Untung menggap bahwa kenaikannya tidak mampu menutupi terjadinya penurunan transaksi properti dengan harga di bawahnya. Tapi para pelaku bisnis juga harus mengetahui jika harga rata-rata properti yang terjual naik menjadi Rp. 1,95 miliar dari Rp 1, 24 miliar.

PT Summarecon Agung Tbk menyambut sinyal bangkitnya bisnis properti ini dengan menargetkan penjualan hingga 50 persen senilai Rp. 4,5 triliun. Sementara di posisi berikutnya PT Intiland Development Tbk menargetkan penjualan sebesar 41 persen dengan mengincar nilai Rp 2,3 triliun. Di peringkat ketiga Ciputra Group yang mengincar target penjualan 18 persen atau senilai Rp. 8,5 triliun yang lebih besar dibandingkan tahun lalu hanya Rp. 7,2 triliun.

By | 2017-08-09T17:12:51+00:00 August 9th, 2017|Investasi Properti|0 Comments

About the Author:

Penulisganteng12

Isi Komen Anda

%d bloggers like this: